
Momuung.co.id – Menjadi ibu baru memang penuh proses belajar, termasuk saat menyusui. Wajar kok kalau Mommy kadang bertanya, “Kenapa ya Si Kecil jadi rewel saat nyusu?” atau “Kok sering lepas puting padahal ASI ada?” Semua itu bagian dari proses adaptasi Mommy dan bayi.
Sering kali, penyebabnya bukan karena ASI kurang, melainkan karena posisi menyusui yang masih perlu disesuaikan. Saat posisi sudah nyaman, bayi lebih mudah menyusu dan Mommy pun bisa merasa lebih rileks.
Memahami kenyamanan si Kecil saat menyusu akan membantu momen menyusui terasa lebih tenang dan menyenangkan. Yuk, kenali posisi yang perlu diperbaiki agar proses mengASIhi berjalan lebih lancar. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Posisi dan pelekatan menyusui yang kurang tepat tidak boleh dianggap sepele ya, Mommy. Jika terjadi berulang, dampaknya bisa dirasakan oleh Mommy maupun si Kecil.
Dampak bagi Mommy
Pelekatan yang dangkal (shallow latch) membuat bayi hanya mengisap puting tanpa memasukkan sebagian besar areola. Kondisi ini dapat menyebabkan puting lecet dan nyeri, karena bayi tidak melekat dengan optimal pada areola. Jika pengosongan ASI yang tidak efektif, ASI dapat tertahan di dalam payudara. Penumpukan ini dapat meningkatkan risiko sumbatan saluran ASI, kemudian berkembang menjadi peradangan, dan pada kondisi lebih lanjut dapat menjadi mastitis bila disertai infeksi (Berens et al., 2021; Mitchell et al., 2022).
Dampak bagi Bayi
Bayi dengan pelekatan yang kurang baik (poor latch) akan kesulitan mengisap dan mentransfer ASI secara efektif. Bayi mungkin menyusu lama, tetapi ASI yang didapatkan bayi tidak optimal,
Pelekatan yang kurang tepat juga dapat menyebabkan bayi lebih banyak menelan udara, sehingga mudah kembung, rewel, dan berisiko mengalami kenaikan berat badan yang tidak sesuai grafik pertumbuhan.
Berikut beberapa posisi yang sebaiknya dihindari karena dapat memengaruhi pernapasan, pelekatan, dan efektivitas isapan bayi:
Posisi ini terjadi saat kepala bayi terlalu menunduk hingga dagunya menempel ke dadanya sendiri. Kondisi ini membuat saluran napas lebih sempit dan menyulitkan bayi mengatur oromotornya dengan nyaman.
Kepala yang terlalu menekuk juga membuat bayi sulit membuka mulut lebar sehingga deep latch sulit tercapai. Dalam posisi ini, hidung bayi juga lebih berisiko tertekan oleh payudara ibu. Idealnya, kepala bayi sedikit mendongak agar dagu menempel ke payudara dan hidung tetap bebas bernapas.
Posisi ini terjadi saat tubuh bayi telentang, tetapi kepalanya diputar ke samping untuk mencapai payudara. Akibatnya, kepala, leher, dan badan tidak berada dalam satu garis lurus. Leher yang terpelintir dapat membuat bayi kurang nyaman saat menyusu dan menyulitkannya untuk membuka mulut dengan stabil, mempertahankan pelekatan yang dalam, serta mengatur refleks oromotornya dengan baik. Dalam jangka waktu menyusu yang cukup lama, bayi bisa lebih cepat lelah atau sering melepas puting.
Penelitian oleh Shotton et al. (2024) menegaskan bahwa kepala dan tubuh bayi sebaiknya berada dalam garis lurus (sejajar). Jika bayi harus memutar leher saat menyusu, proses menelan dan efektivitas menyusu dapat menjadi kurang optimal.
Bayi terutama yang baru lahir, kekuatan ototnya belum seluruhnya stabil, sehingga jika tidak ditopang dengan baik, misalnya hanya kepala atau punggung atas yang disangga sementara pantat dan kakinya menggantung, bayi akan kesulitan menjaga posisi tetap stabil saat menyusu ini akan menyulitkannya untuk mendapatkan stabilitas.
Posisi yang tidak stabil ini dapat mengganggu refleks menyusu alaminya. Akibatnya, isapan menjadi kurang efektif, pelekatan mudah terlepas, dan bayi lebih cepat rewel dan tidak nyaman selama menyusu.
Agar bayi menyusu dengan nyaman dan ASI keluar optimal, Mommy bisa menyusui dengan berbagai posisi seperti cradle hold, football hold, atau side-lying selama mengikuti prinsip berikut:

Pastikan tubuh bayi saling berhadapan, dengan perut bayi menempel pada perut ibu. Posisi ini membantu tubuh bayi tidak terpelintir dan membantu ia melekat lebih stabil. Saat tubuh sejajar dan saling menghadap, bayi lebih mudah mempertahankan pelekatan yang dala, dan menyusu lebih efektif.
Kepala, leher, dan punggung bayi berada dalam satu garis lurus atau sejajar. Hindari kepala yang menunduk atau menoleh sementara badan menghadap arah berbeda. Posisi sejajar juga memudahkan bayi mengisap, menelan, dan bernapas dengan nyaman.
Wajah bayi menghadap payudara, dengan hidung sejajar puting sebelum melekat untuk membantu bayi membuka mulut bayi lebih lebar dan mendapatkan pelekatan.
Pastikan hidung bayi tidak tertutup payudara, sementara dagunya menempel pada payudara. Pelekatan seperti ini membantu aliran ASI lebih lancar dan mengurangi nyeri puting. Posisi ini membuat kepala bayi sedikit mendongak sehingga jalan napas tetap terbuka. Untuk membantu posisi ini, Mommy bisa mendekatkan tubuh dan pantat bayi agar tubuhnya tersangga penuh dan sudut kepalanya lebih optimal.

Baca lainnya: 4 Posisi Gendongan Bayi yang Benar agar Si Kecil Tenang dan Tidak Rewel
Menyusui adalah proses saling memahami antara Mommy dan si Kecil. Saat bayi terlihat rewel, Mommy tidak perlu langsung khawatir. Cukup cek kembali apakah posisi menyusu sudah sejajar dan terasa nyaman untuk keduanya. Posisi yang tepat akan membuat proses menyusui lebih tenang dan minim rasa tidak nyaman.
Jika melihat gambar saja masih terasa membingungkan, atau Mommy mulai merasa perih saat menyusui, tidak apa-apa untuk mencari bantuan. Mommy tidak harus menjalani semuanya sendiri.
Layanan Konsultasi Menyusui Mom Uung GRATIS 24 Jam siap menemani Mommy dengan panduan yang praktis dan personal, agar menyusui terasa lebih nyaman dan menyenangkan.
Yuk, SAVE artikel ini sebagai pengingat, dan SHARE ke sesama busui supaya makin banyak Mommy yang bisa menyusui dengan tenang.
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.