
Momuung.co.id – Menjelang persalinan, sebagian besar calon orang tua biasanya mulai sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan si Kecil. Mulai dari membeli perlengkapan bayi, menyiapkan kamar tidur, hingga menentukan pilihan tempat bersalin.
Namun, ada satu persiapan penting yang masih sering terlewat, yaitu persiapan menyusui sejak masa kehamilan.
Hal inilah yang menjadi perhatian Uung Victoria Finky saat berkunjung ke salah satu klinik bidan di Depok. Dalam suasana yang hangat dan penuh obrolan dari hati ke hati, Uung mendengarkan langsung berbagai cerita, pertanyaan, hingga kekhawatiran yang dirasakan oleh para calon Mommy menjelang kelahiran buah hati mereka.
Menariknya, sebagian besar kekhawatiran tersebut ternyata berkaitan dengan menyusui.
Dari obrolan santai bersama para calon Mommy dan Paksu, Uung Victoria Finky menemukan satu hal yang cukup sering terjadi: masih banyak ibu hamil yang belum mendapatkan edukasi menyusui secara khusus.
Sebagian besar peserta mengaku lebih sering mendapatkan informasi seputar kehamilan dan persalinan saat kontrol rutin. Sementara itu, topik tentang menyusui sering kali baru mulai dicari setelah bayi lahir.
Padahal, menyusui juga membutuhkan persiapan, lho, Mom.
“Yang paling sering aku temui itu sebenarnya Mommy-nya semangat banget pengen kasih ASI. Tapi karena belum punya bekal informasi yang cukup sejak hamil, akhirnya jadi gampang panik pas ketemu tantangan di awal. Misalnya ASI belum keluar banyak, bayi maunya nempel terus, atau bingung apakah ASI-nya sudah cukup atau belum,” cerita Uung Victoria Finky.
Menurut Uung, banyak calon orang tua yang baru menyadari bahwa menyusui bukan sekadar “ASI keluar lalu selesai”. Ada banyak hal yang perlu dipelajari, mulai dari pelekatan yang tepat, mengenali tanda lapar bayi, hingga memahami bahwa produksi ASI juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Hal serupa juga disampaikan oleh Bidan Aning. Menurutnya, edukasi menyusui sebaiknya sudah mulai diberikan sejak masa kehamilan agar Mommy tidak merasa sendirian saat menghadapi hari-hari pertama setelah persalinan.
“Kadang Mommy langsung kepikiran, ‘Duh, ASI aku kok belum banyak ya? Bayiku lapar nggak ya?’ Padahal, di awal-awal itu tubuh memang lagi berproses dan bayi juga masih sama-sama belajar menyusu. Jadi sebenarnya wajar banget kalau ada masa adaptasi,” jelas Bidan Aning.
Bidan Aning juga mengingatkan bahwa berbagai tantangan menyusui di awal sering kali masih bisa diatasi dengan pendampingan yang tepat.
“Yang penting jangan dipendam sendiri. Kalau bingung, tanya. Kalau khawatir, konsultasi. Karena makin cepat Mommy dapat informasi yang benar, biasanya rasa cemasnya juga jauh berkurang,” tambahnya.
Bahkan, tidak sedikit ibu yang baru melahirkan juga masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai pentingnya ASI eksklusif dan proses adaptasi menyusui. Akibatnya, sebagian orang tua merasa terburu-buru memberikan susu formula ketika menghadapi kendala di awal, tanpa terlebih dahulu mencari dukungan atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Padahal, banyak tantangan menyusui yang sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar antara Mommy dan si Kecil. Dengan bekal edukasi sejak masa kehamilan, calon orang tua bisa lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan setelah persalinan dan menjalani perjalanan mengASIhi dengan lebih tenang serta percaya diri.
Masih banyak orang yang menganggap bahwa menyusui adalah kemampuan alami yang akan berjalan dengan sendirinya begitu bayi lahir. Padahal, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.
Baik Mommy maupun si Kecil sama-sama membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan belajar. Bayi perlu mempelajari cara melakukan pelekatan yang tepat, sementara Mommy juga sedang berproses memahami perubahan tubuh, mengenali tanda lapar bayi, hingga menyesuaikan diri dengan ritme menyusui yang baru.
Menurut Uung Victoria Finky, pemahaman inilah yang penting dimiliki sejak masa kehamilan.
“Kadang kita mikirnya, ‘Nanti kalau bayinya lahir pasti langsung bisa nyusu.’ Padahal, banyak Mommy yang baru sadar ternyata menyusui itu juga ada ilmunya. Ada proses belajar, ada trial and error, dan itu normal banget,” ungkap Uung.
Beliau juga menambahkan bahwa memiliki bekal informasi sejak hamil dapat membantu calon orang tua lebih siap menghadapi berbagai situasi setelah persalinan.
“Setidaknya Mommy jadi tahu kalau ketika ada tantangan, itu bukan berarti gagal. Bisa jadi memang sedang sama-sama beradaptasi sama si Kecil.”
Hal senada juga disampaikan oleh Bidan Aning. Menurutnya, edukasi sejak masa kehamilan membantu orang tua memiliki ekspektasi yang lebih realistis.
“Kalau sudah tahu dari awal bahwa menyusui itu proses belajar, biasanya Mommy jadi nggak terlalu keras sama diri sendiri. Nggak langsung menyalahkan diri ketika ada kendala di hari-hari pertama,” jelas Bidan Aning.
Di luar materi edukasi yang diberikan, ada satu momen yang terasa paling berkesan dalam kunjungan ini, yaitu ketika para calon Mommy mulai berani membagikan cerita dan kekhawatiran mereka.
Ada yang takut ASI-nya tidak keluar setelah melahirkan. Ada yang khawatir tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Ada pula yang merasa bingung karena mendapatkan terlalu banyak saran yang berbeda dari keluarga, teman, maupun media sosial.
Bagi Uung Victoria Finky, sesi seperti inilah yang justru menjadi pengingat bahwa banyak ibu hanya membutuhkan ruang yang aman untuk didengarkan.
“Kadang Mommy itu sebenarnya nggak butuh dibilang harus sempurna. Mereka cuma pengen tahu kalau apa yang mereka rasakan itu wajar. Bahwa rasa takut, bingung, bahkan overthinking menjelang menyusui itu dialami juga oleh banyak ibu lainnya,” ujar Uung.
Bidan Aning pun sepakat bahwa dukungan emosional memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan edukasi.
“Makanya saya selalu bilang ke Mommy, jangan sungkan buat bertanya. Nggak ada pertanyaan yang sepele kalau itu berkaitan dengan kesehatan ibu dan bayi. Lebih baik bertanya daripada memendam kekhawatiran sendirian,” kata Bidan Aning.
Melalui diskusi yang hangat dan tanpa menghakimi, para peserta diajak untuk memahami bahwa setiap perjalanan menyusui memiliki ceritanya masing-masing. Tidak ada ibu yang langsung mengetahui semua jawabannya sejak awal.
Setiap Mommy berhak untuk belajar, bertanya, dan mendapatkan dukungan selama menjalani proses mengASIhi.

Dalam sesi ini, para Paksu juga diajak untuk memahami bahwa menyusui bukanlah tanggung jawab ibu seorang diri.
Dukungan emosional dari pasangan dapat membantu Mommy merasa lebih tenang dan percaya diri, terutama saat menghadapi masa-masa awal setelah persalinan yang penuh penyesuaian.
Terkadang, hal sederhana seperti mendengarkan keluh kesah pasangan, membantu pekerjaan rumah, atau menemani saat konsultasi laktasi dapat memberikan dampak yang besar bagi keberhasilan menyusui.
Karena pada akhirnya, perjalanan menjadi orang tua adalah proses yang dijalani bersama.
Persiapan menyusui tidak harus rumit.
Calon orang tua dapat mulai dengan mencari informasi dari sumber yang tepercaya, berdiskusi dengan bidan atau konselor laktasi, mengikuti kelas edukasi, hingga memahami berbagai kondisi yang umum terjadi setelah persalinan.
Selain itu, memenuhi kebutuhan nutrisi sejak masa kehamilan juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi fase menyusui nantinya.
Yang tidak kalah penting, Mommy juga perlu mengingat bahwa tidak ada perjalanan menyusui yang benar-benar sempurna.
Setiap proses akan dipenuhi pembelajaran baru, tantangan, sekaligus momen berharga bersama si Kecil.
Kunjungan ke klinik bidan ini menjadi pengingat bahwa masih banyak calon orang tua yang membutuhkan akses terhadap edukasi menyusui yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi Mom Uung, mendampingi para ibu tidak hanya sebatas menghadirkan produk, tetapi juga melalui dukungan, edukasi, dan ruang yang aman untuk belajar bersama.
Harapannya, semakin banyak Mommy yang merasa lebih siap menghadapi perjalanan menyusui, tidak mudah menyalahkan diri sendiri saat menemui tantangan, dan menyadari bahwa mereka tidak perlu menjalani semuanya sendirian.
Kalau Mommy saat ini sedang menantikan kehadiran si Kecil, sudah sejauh apa persiapan menyusui yang dilakukan?
Yuk, bagikan cerita atau pertanyaan Mommy di kolom komentar. Siapa tahu, pengalaman Mommy bisa menjadi penyemangat bagi calon ibu lainnya yang sedang mempersiapkan perjalanan mengASIhi.
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.