
Momuung.com – Seks Saat Hamil masih menjadi hal yang sering membuat pasangan ragu. Wajar, Mommy mungkin khawatir aktivitas seksual akan mengganggu kehamilan atau membahayakan si Kecil.
Kabar baiknya, pada kehamilan yang sehat tanpa komplikasi tertentu, hubungan seksual umumnya aman dilakukan. Janin terlindungi oleh rahim dan cairan ketuban, sehingga hubungan seksual tidak langsung menyentuh atau melukai bayi.
Meski begitu, tubuh Mommy memang bisa mengalami banyak perubahan selama kehamilan. Yuk, kenali fakta tentang seks saat hamil berikut ini supaya Mommy dan pasangan bisa tetap nyaman dan aman.
Jika kehamilan Mommy berjalan sehat dan dokter tidak memberikan larangan khusus, hubungan seksual umumnya tetap aman dilakukan. Janin terlindungi di dalam rahim oleh kantung ketuban dan otot rahim, sehingga aktivitas seksual tidak langsung menyentuh atau melukai bayi.
Pada kehamilan yang sehat, hubungan seksual juga tidak menyebabkan keguguran. Namun, jika Mommy memiliki kondisi atau komplikasi tertentu, keamanan hubungan seksual perlu disesuaikan dengan anjuran dokter.
Perubahan hormon dan kondisi tubuh selama kehamilan bisa membuat gairah seksual Mommy ikut berubah. Ada yang mengalami penurunan libido karena mual, muntah, mudah lelah, atau merasa kurang nyaman dengan perubahan tubuh. Namun, sebagian Mommy justru bisa merasakan gairah yang meningkat pada fase tertentu.
Tidak ada kadar gairah yang “normal” untuk semua ibu hamil. Jadi, Mommy tidak perlu merasa khawatir jika hasrat seksual berubah selama kehamilan. Yang terpenting, komunikasikan dengan pasangan dan jangan memaksakan aktivitas seksual ketika tubuh belum terasa nyaman.
Memasuki masa akhir kehamilan, mungkin muncul berbagai pertanyaan lain seputar perubahan tubuh dan tanda-tanda persalinan, termasuk tentang kontraksi. Jika Mommy sedang mencari informasi seputar persiapan menjelang persalinan, baca juga 10 Cara Agar Cepat Kontraksi yang Aman Menjelang Persalinan untuk memahami berbagai hal yang perlu diketahui sebelum hari kelahiran.
Bukan hanya Mommy yang bisa mengalami perubahan gairah. Pasangan juga mungkin merasa lebih ragu atau khawatir untuk berhubungan seksual karena takut menyakiti Mommy atau bayi.
Komunikasikan rasa khawatir dan perubahan kebutuhan masing-masing agar aktivitas seksual tetap terasa nyaman bagi keduanya.
Selama kehamilan tidak memiliki komplikasi dan terasa nyaman, sebagian besar posisi seksual dapat dilakukan.
Namun, seiring perut membesar, beberapa posisi mungkin terasa kurang nyaman. Mommy bisa mencoba posisi menyamping atau posisi lain yang memungkinkan Mommy mengatur kenyamanan dan kedalaman penetrasi. Tidak ada satu posisi yang secara medis wajib untuk semua ibu hamil.
Perubahan hormon dan meningkatnya aliran darah ke area payudara serta organ genital dapat membuat tubuh terasa berbeda selama kehamilan.
Payudara bisa menjadi lebih sensitif atau mudah terasa tidak nyaman. Respons seksual setiap Mommy juga bisa berubah, termasuk bagaimana tubuh merasakan rangsangan dan orgasme.
Karena itu, penting untuk selalu berkomunikasi dengan pasangan tentang sentuhan atau aktivitas yang terasa nyaman maupun tidak.
Setelah orgasme, Mommy mungkin merasakan kram ringan atau rahim terasa mengencang sebentar. Hal ini dapat terjadi karena orgasme memang dapat menyebabkan kontraksi rahim ringan dan biasanya tidak berbahaya pada kehamilan yang sehat.
Namun, kram yang terasa kuat atau tidak kunjung membaik, terutama jika disertai perdarahan, perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan.
Banyak pasangan menghindari hubungan seksual karena takut seks dapat menyebabkan keguguran.
Padahal, pada kehamilan yang sehat, hubungan seksual tidak menyebabkan keguguran. Sebagian besar keguguran terjadi karena masalah pada perkembangan kehamilan, bukan karena aktivitas seksual.
Tidak semua kehamilan memiliki kondisi yang sama. Dokter mungkin menyarankan Mommy untuk tidak berhubungan seksual jika terdapat kondisi tertentu, seperti:
Pada kondisi tersebut, ikuti anjuran dokter karena keputusan mengenai aktivitas seksual perlu disesuaikan dengan kondisi kehamilan Mommy.
Kehamilan membuat pembuluh darah di leher rahim menjadi lebih mudah mengalami perubahan sehingga sebagian Mommy bisa mengalami spotting setelah berhubungan seksual.
Meski begitu, perdarahan saat hamil tetap perlu diperhatikan. Segera hubungi dokter atau tenaga kesehatan jika perdarahannya banyak, disertai nyeri hebat, atau muncul keluhan lain yang mengkhawatirkan.
Ada kalanya Mommy tidak ingin berhubungan seksual karena mual, lelah, nyeri, atau sekadar sedang tidak ingin.
Tidak masalah. Kedekatan dengan pasangan tetap bisa dibangun melalui aktivitas lain, seperti berpelukan, berciuman, saling memberikan pijatan, atau menghabiskan waktu bersama.
Yang terpenting, jangan merasa harus berhubungan seksual ketika tubuh dan pikiran Mommy belum siap.
Setiap kehamilan punya kondisi yang berbeda. Jadi, kalau Mommy memiliki komplikasi kehamilan, pernah mengalami persalinan prematur, mengalami perdarahan, atau mendapatkan anjuran tertentu dari dokter, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu apakah hubungan seksual aman dilakukan.
Begitu juga jika setelah berhubungan seksual Mommy mengalami perdarahan banyak, nyeri atau kram yang berat dan menetap, keluar cairan seperti air ketuban, atau kontraksi yang mengkhawatirkan. Segera hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
Pada kehamilan yang sehat, seks umumnya aman dilakukan dan tidak membahayakan bayi. Namun, kenyamanan Mommy tetap menjadi hal yang penting.
Kehamilan membawa banyak perubahan pada tubuh dan emosi. Jadi, tidak perlu memaksakan diri. Komunikasikan dengan pasangan, pilih aktivitas yang terasa nyaman, dan ikuti anjuran dokter jika Mommy memiliki kondisi kehamilan tertentu.
Yang terpenting, hubungan seksual selama hamil seharusnya membuat Mommy merasa aman, nyaman, dan dihargai.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.